 | Selamat Datang, Assalamu'alaikum... | May 31, 2005 |
Welcome to (Oki) Trisatya home page! Terima kasih sudah mengunjungi situs multiplyku ini. Apa makna dari hari lahir ? Banyak memang, salah satunya yang aku maknai adalah sudah berkurangnya satu tahun dari total hidupku. Entah sampai kapan, kita tidak tahu. Mungkin besok, mungkin 5 menit kedepan atau bahkan saat ini , Allah SWT. melalui malaikat Izrail berkehendak mencabut nyawa hambanya. Minggu malam kemarin, aku datang ke acara rutin pengajian di komplekku. Acara diisi tausiyah oleh ustad Athian Ali. Dalam tausiahnya beliau berbiacara soal kematian dan alam ghaib. Bagaimana saat-saat sakaratul maut menjemput kita. Saat menjelang sakaratul maut, maka pintu ghaib dibuka. Jika kita melihat serombongan malaikat yang mukanya berseri2, maka dia akan mengabarkan, bahwa kita adalah calon penghuni surga. Tetapi sebaliknya jika yang datang adalah serombongan malaikat dengan muka seram, maka tak pelak lagi pertanda kita akan menjadi calon penghuni neraka. Saya selama tausiyah, berkali-kali mengucap istigfar, mohon ampun pada Alloh SWT. Bagaimana tidak, kalau ingat dosa-dosa yang telah saya lakukan. Ingat akan kemaksiatan yang telahsaya lakukan, ingat akan semua kedholiman yang telah saya lakukan. Rasanya saya bakalan menjadi calon penghuni neraka. Saya takut, jelas saya takut. Tapi bagaimanapun juga, siap, nggak siap, kita tidak akan tahu. Siap ngak siap, kita harus siap, jika Alloh. SWT. berkehendak mencabut nyawa kita. Memang orang lain mungkin memandang kita dari sisi lain. Orang lain tidak tahu benar siapa kita. Orang lain hanya melihat kebaikan-kebaikan kita. Padahal, kalau mereka tahu, atau kalau Alloh berkehendak membuka aib-aib diri kita maka hancurlah kita. Kembali ke makna berkurangnya setahun hidup di dunia. Ketika umur bertambah maka semakin berkurang waktu kita untuk tobat, semakin sedikit waktu kita untuk beramal sholeh, untuk melaksanakan perintah Alloh SWT. Kalau diandaikan hidup kita setara dengan Rasululloh SAW, 60 tahun, maka saat usia kita saat ini 38 tahun, akan ada sisa 22 tahun lagi. Diukur dari akil baligh kira-kira usia 7 tahun, maka usia 38 tahun dikurangi 7 tahun ada 31 tahun hidup telah yang dijalani dan diukur dosanya. Nah apakah kita yakin selama 31 tahun itu banyak melakukan kebaikan ? Dan apakah yakin waktu yang tersisa kira-kira 22 tahun lagi akan diisi dengan kebaikan ? Atau malah sebaliknya makin banyak kita melakukan kemasiatan ? Melakukan dosa ? Memang dosa dan amal hanya Alloh SWT yang tahu. Kadang kita merasa itu amal, tapi siapa tahu menurut Yang Maha Kuasa adalah dosa, karena ada riya dalam amal kita. Kadang kita merasa itu dosa, tapi siapa tahu karena taubat kita, Alloh Swt. mengampuni dosa kita. Tapi setidaknya dengan berkurangnya usia kita hidup di dunia ini, kita bisa menengok lagi kebelakang, sudah cukupkan bekal kita untuk di kehidupan abadi kelak ? Sudah cukupkan amal yang kita perbuat ? Ataukah masih banyak dosa yang kadang tidak kita sadari telah kita lakukan ? Terus terang menengok diri sendiri saja, saya masih ragu. Saya sendiri masih belum bisa menjadi seorang anak yang baik dan berbakti buat Ibunda tercinta. Belum bisa menjadi suami sekaligus ayah yang baik buat istri dan anak-anakku. Belum bisa menjadi tetangga yang baik, buat tetangaku di komplekku. Belum bisa menjadi teman yang baik buat sahabat-sahabatku dari sejak lahir hingga kini. Belum bisa menjadi saudara yang baik, buat saudara-saduara dan kerabat . Belum bisa menjadi rekan kerja yang baik di kantor. Dan yang terpenting sekali, saya merasa belum bisa menjadi hamba yang baik dihadapan Alloh SWT, penguasa segala mahluk, penguasa alam semesta dan segala isinya. Masih banyak yang harus diperbaiki dalam diri saya. Untuk itu saya selalu berdoa, semoga di sisa waktu yang entah berapa tahun, hari, jam bahkan mungkin menit, semoga Alloh SWT, menjadikan saya sebagai hamba yang sholeh dan membuat saya bisa berguna dan bermanfaat bagi sekeliling saya, Aaamiin.  |  | Perpisahan TK Avicena di Kampung Bambu, Padasuka Juni 2008 |
 |  | Kemeriahan perayaan 17 Agustusan di RW 07 Komplek Unpad Cigadung I Bandung. |
Kemarin, tepatnya minggu tanggal 15 Juni, saya datang ke pertemuan RT. Maklum sudah lama tidak ada pertemuan lagi, padahal seharusnya terjadwal 3 bulanan. Di sana, saya ketemu teman pramuka, Fajar. Dia teman waktu saya Penggalang dan Penegak. Fajar ini baru saja menyelesaikan PhD nya di Chiba Jepang sana. Dia cerita katanya banyak teman2 dia yang menyarankan agar dia tidak dulu pulang ke Indonesia, tapi kerja saja di Jepang. Tapi ternyata panggilan hatinya, serta kekangenan akan Indonesia membuat dia memutuskan pulang ke Indonesia. Berbeda dengan saudara sepupu saya Ari Tamat, yang sampai saat ini masih betah di Jepang sana, atau temen pramuka juga Ka Gunawan yang sudah jadi doktor, masih betah di sana (Jepang). Saya juga bilang sama Fajar, sayang kamu pulang. Kalau saya sih berpikiran bukan soal nasioanlisme atau tidak cinta tanah air. Tapi ke Indonesia apa yang bisa dilakukan ? Dalam kondisi seperti ini ? Apalagi kalau bidang yang kita pelajari di luar negeri, tidak atau kurang mendukung iklimnya di Indonesia. Kalau saya berpikir sih, lebih baik kerja di luar negeri. Cari uang sebanyak mungkin, cari ilmu yang banyak, buat penelitian. Apalagi di luar negeri khususnya negara maju, dana penelitian dan laboratorium tersedia lengkap. Nah manfaatkan semua itu, tapi tentunya untuk bangsa juga. Kita keruk semua fasilitas negara maju, tentunya juga hasilnya bisa kita persembahkan buat negara kita, Indonesia. Jadi kalaupun kita kerja di luar negeri, punya uang banyak, toh bisa kita kirim ke Indonesia, sumbangkan buat bangsa kita. Itu lebih baik, dari pada kerja di Indonesia, belum tentu dihargai atau kalau di PNS dapat meja.Dengan laboratorium dan fasilitas yang kuno dan terbatas bisa apa ? Makanya saya pikir lebih baik di luar negeri, sambil terus memantau negeri sendiri. Cari apa yang bisa disumbangkan ke negara sendiri, dari hasil2 yang diperoleh selama di luar negeri. Ntar kalau Indonesia sudah muali kondusif, maka baru balik ke Indonesia. Jadi bukan tidak nasionalisme, bukan tidak cinta tanah air jika sudah selesai Phd, tidak kembali ke Indonesia. Salam.
Ini artikel lama yang dikirim dari milis ke milis. Walaupun saya baca berkali-kali, tetap rasanya ingin menangis. ...
*MANDIKAN AKU BUNDA!* Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir. Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kotake kotalain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini. Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga. Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'' Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua. Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Mari kita sama-sama meng-instropeksi diri kita masing-masing terhadap sang Buah hati kita........ . Jawab nya......... ......... ......... ...!!! InsyaAllah  |  | Ini saat jalan-jalan ke Gasibu Bandung, pas ada acara Gebyar Kemilau Nusantara. Sudah lama ya tahun 2005. Acara ini dilangsungkan tiap tahun, mengundang dari semua propinsi di Indonesia, untuk menampilkan kekhasan tarian dari berbagai daerah di Nusantara. Mengambil foto ini memang susah-susah mudah. Cari posisi yang enak, dan pas pengambilannya. Maklum masih amatir sih.... |
 |  | Tahun 2006 saat Gebyar Kemilau Nusantara di Gasibu Bandung. Pake kamera digital, lumayan sih..... |
 |  | Ini foto kedua annakku, Fatikha Y. Alvina Tamat dan Annisa M. Mustaqimah Tamat. Dalam berbagai pose, yang kukirimkan ke majalah Ayahbunda. Cuma tidak terpajang ...... |
Buat banyak-banyak blog di mana-mana, terus ikut macam2 situs pertemanan, jadinya repot juga ya. Tadinya sih cuma satu. Email di Yahoo, terus blog di Multiply, terus pertemanan di Friendster. Tapi akhirnya, mereka semua menyediakan semua hal. Jadi ikut deh semuanya. Apalagi temaan-temanku dan saudaraku pada nginvite aku. Jadilah aku punya banyak blog dan situs pertemanan. Akhirnya jadi gak ke urus ya, jadi malah repot ngurusnya. Coba saya pilah ya, saya punya Friendster ada dua. Tadinya satu, tapi karena kalau 500 full, jadi buat yang kedua. Di FS ini juga ada blognya dan tempat nyimpan foto. Terus, ikutan Temanster, lalu ikutan lagi Multiply . Padahal untuk web sites saya udah ada di geocities di Trisatya Web. Nah terus diundang sama teman jadi ikutan nih 360 ke 1 , Myspace, Tagged, Wayn, 360 ke2, Orkut, Goodreads, Tubely, HI5, Hoverspot.Com, Temanster, Liveconnector, Wadja, WargaFriendster, MyLot, Facebook, Fupei, Sohib,perfspot,goodtree,ringo, Kampusmate,reuni.us,Naseb, Jhoos dan entah apalagi ya. Untuk blogs ada di Blogsome, terus di Blogger dan terakhir di Unpad. Sama juga dengan e-mail, nyaris saya punya banyak. Di kantor aja ada tiga, terus di Yahoo ada dua (sekarang satu), belum lagi di Plasa, di telkom.net lalu di Gmail, hotmail dan live. Dulu sih pernah ya "isenk" nyobain bikin email banyak-banyak. Tapi karena nggak keurus jadinya sekarang yang resminya tinggal 10 account email (sekarang tinggal 6). Untungnya kerja di kantor yang internetnya 24 jam nonstop, membuat saya bisa baca semua email tiap hari, dari semua account yang saya buat. Demikian juga milis, kalau dilihat sih saya udah join di 100 lebih milis, baik yang dikelola Yahoogroups ataupun Groups.or.id . Untungnya saya setting sebagian nomail. Jadi ya sehari paling banyak 100 email lah yang harus dibaca. Nah ruwet kan, kebayang nggak dengan ini semua ..he..he..he..he.... . Salahku sendiri sih........ Mengatur waktu untuk menulis memang repot ya. Apalagi kalau menggunakan fasilitas kantor...kan namanya "korupsi" kecil-kecilan he..he..he... . Udah waktu kerja tersita dikit, apalagi kerja di Perguruan Tinggi Negeri, ya nggak. Lagian memang susah-susah mudah, mengatur waktu teh... . Emang saya sih harusnya fokus dan punya jadwal yang teratur. Tapi ya itu, mendisiplinkan diri memang sulit , he..he...he... .  |  | Ini foto-fotoku, dari kecil sampai sekarang. |
Akhirnya saya mulai mencoba menulis lagi. Dari dulu sudah mau menulis gak pernah kesampaian, karena malas, gak bisa mengatur waktu dengan baik dan lain-lainnya. Padahal sudah banyak hal yang ingin saya kemukakan, banyak hal yang saya lihat, saya alami, saya pikirkan dan diskusikan dalam hati serta pengalaman-pengalaman sehari-hari, serta opini atau pendapat orang lain yang ingin saya kemukakan. Memang susah ya untuk memulai. Dulu pernah mau menulis di diary pribadi, tapi gak bertahan lama. Berhubung tulisan saya "kaya ceker ayam" alias kurang bagus, ya begitulah jadinya. Tapi keinginan menulis sebenarnya masih ada. Sampai saya coba beli bukunya Erwin Sutomo yang berjudul BLOG, media menulis tanpa batas mudah dan praktis, lalu keinginan itu termotivasi kembali. Padahal sudah lama saya masuk ke dunia blog walaupun cuma sekedar baca-baca blognya orang lain. Saya udah pernah mencoba buat blog di 2 friendster yang saya punya ( Oki Satu Trisatya dan Oki Dua Trisatya) tapi gak bertahan lama. Makanya saya mau mencoba lagi meneruskan tulisan saya. Ya mudah-mudahan saya bisa teratur menulis di sini. Doakan saja ya. Saya iri sih lihat teman-teman saya yang sudah asyik masyuk dengan blognya atau webnya . Seperti teman kuliah saya Sadikin dengan rumahkirinya atau Philips J. Vermote junior saya di kampus dulu. Tapi kembali lagi kesempatan untuk mengupdate web tersebut dirasa tidak ada, karena susahnya saya memanage waktu.  Wah....buat journal...susah nggak ya...... btw apa sama dengan blog ? Atau kita bebas menuangkan apa yang kita ingin tuangkan ? Bingung nech.....??? Tapi kata orang tulislah apa yang akan kamu tulis. Ini memang bukan pertama... saya coba di Frinedster 2 hari yang lalu, tapi mau update nyang di sana, wah susahnya koneksi deh. Gak tau kenapa seh..... Repot amat sih kalau koneksi ke Frindster (FS). Tambah lagi komputer aku di kantor rada eh bukan rada lagi...lambat pisan.... . Padahal memory dah 256, napa seeh. jadi we nggak bisa update tuh blogger ..... . Mo coba ke blog, lupa lagi accountnya...wah serba salah ya.... , tapi ..... Oke deh.....gitu dulu aja.... ntar sambung lagi........... Salam buat yang baca ya ................ 
| |